5 Syarat Kerukunan, KH. Mochammad Ridwan Nachdi Tekankan “Ngopi: Ngopeni Ati”

5 Syarat Kerukunan, KH. Mochammad Ridwan Nachdi Tekankan “Ngopi: Ngopeni Ati”

Purwakarta, (05/12). KH. Mochammad Ridwan Nachdi menyampaikan tausiyah bertema “Lima Syarat Kerukunan” ba’da Shalat Jumat, 5 Desember 2025, di Masjid Nurridwan, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kelurahan Ciseureuh, Purwakarta. Dalam ceramahnya, beliau menegaskan bahwa kerukunan merupakan fondasi utama dalam membina jamaah, keluarga, dan masyarakat. Karena itu, LDII membangun kerukunan melalui lima syarat pokok yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadits.

“Kerukunan itu tidak hadir begitu saja. Ada syarat-syaratnya, dan semua itu sudah diajarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah,” ujar KH. Ridwan.

Berikut lima syarat kerukunan yang disampaikan:

  1. Bicara yang Baik

KH. Ridwan menjelaskan bahwa lisan adalah sumber kebaikan sekaligus sumber kerusakan jika tidak dijaga. Karena itu, Islam mewajibkan umatnya berbicara dengan kata yang baik dan benar.

QS. Al-Ahzab: 70

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

QS. Al-Isrā’: 53

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ucapkanlah perkataan yang terbaik.”

Hadits

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
(HR. Bukhari & Muslim)
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

  1. Jujur, Bisa Dipercaya, dan Mempercayai

Menurut KH. Ridwan, kerukunan tidak mungkin terwujud tanpa kejujuran dan rasa saling percaya. Dalam Islam, jujur adalah sifat yang mengantarkan pada kebaikan dan keselamatan.

Dalil Al-Qur’an

QS. At-Taubah: 119

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.”

Hadits

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
(HR. Bukhari & Muslim)
“Berpeganglah pada kejujuran, karena kejujuran membawa kepada kebaikan.”

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ
(HR. Ahmad)
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah.”

  1. Sabar dan Keporo Ngalah

Sabar adalah pilar akhlak, sedangkan keporo ngalah merupakan tradisi Jawa yang berarti mengalah demi menjaga suasana tetap tenteram.

QS. Ali ‘Imran: 200

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu…”

QS. Fushshilat: 34

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik.”

Hadits

إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
(HR. Bukhari & Muslim)
“Orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

  1. Tidak Merusak Sesama (Diri, Harta, Hak, dan Kehormatan)

KH. Ridwan menegaskan bahwa kerukunan hanya terwujud bila setiap individu menjaga keselamatan orang lain dari bahaya ucapan maupun perbuatan.

Dalil Al-Qur’an

QS. Al-Hujurat: 11–12
Larangan menghina, merendahkan, menggunjing, berprasangka buruk, dan mencari-cari kesalahan.

QS. Al-Maidah: 2

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Hadits

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
(HR. Bukhari & Muslim)
“Seorang muslim adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ
(HR. Bukhari & Muslim)
“Darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian.”

  1. Saling Memperhatikan dan Menjaga Perasaan

KH. Ridwan menyampaikan bahwa perhatian dan empati adalah inti dari ukhuwah. Orang beriman harus menjaga perasaan saudaranya.

Dalil Al-Qur’an

QS. At-Taubah: 128

حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“(Nabi) sangat menginginkan kebaikan bagi kalian; amat penyayang dan penuh belas kasih kepada orang-orang mukmin.”

QS. Al-Hujurat: 10

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

Hadits

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
(HR. Bukhari & Muslim)
“Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Pesan Penutup: “Ngopi = Ngopeni Ati”

Mengakhiri tausiyahnya, KH. Mochammad Ridwan Nachdi menyampaikan pesan penutup yang mencuri perhatian jamaah.

Beliau mengajak seluruh warga LDII untuk “ngopi”, bukan sekadar menikmati secangkir kopi, tetapi sebagai filosofi Jawa: ngopeni ati, yakni merawat dan menjaga hati.

“Ngopi itu bukan hanya minum kopi.
Ngopi itu ngopeni ati, merawat hati kita agar tetap bersih, tenang, dan jauh dari penyakit hati,” ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa hati yang bersih akan melahirkan kejujuran, kesabaran, tutur kata yang baik, serta menghindarkan diri dari perbuatan yang merusak sesama. Itulah fondasi utama terciptanya kerukunan sejati, baik dalam keluarga, jamaah, maupun masyarakat luas.

Acara tausiyah ditutup dengan doa bersama dan ajakan memperkuat kerukunan sebagai identitas warga LDII Purwakarta.