Bijak Bermedia Sosial, Memilih Lingkungan Digital yang Membawa Kebaikan
Purwakarta (03/06). Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Setiap hari, jutaan orang mengakses Instagram, Facebook, TikTok, WhatsApp, dan berbagai platform lainnya untuk mencari informasi maupun hiburan.
Media sosial sejatinya dapat menjadi sarana penyebaran ilmu dan kebaikan. Alangkah baiknya apabila beranda dipenuhi dengan konten bermanfaat seperti kajian keislaman, nasihat, motivasi, inspirasi, serta berbagai pesan yang mengajak kepada kebaikan.
Namun sebaliknya, tidak sedikit media sosial justru dipenuhi tayangan yang kurang bermanfaat, seperti pamer diri, membuka aurat, joget berlebihan, gibah, ujaran kasar, hingga berbagai konten maksiat dan hujatan.
Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga pandangan dan pendengaran, termasuk dalam aktivitas di dunia maya. Apa yang dilihat dan didengar melalui media sosial lambat laun akan memengaruhi hati, pola pikir, dan perilaku seseorang.
Karena itu, setiap muslim dituntut selektif dalam memilih lingkungan digital, termasuk menentukan siapa saja yang diikuti maupun dijadikan teman di media sosial. Lingkungan pertemanan yang baik akan membawa pengaruh positif dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memilih akun-akun yang menyebarkan manfaat dan kebaikan, media sosial dapat menjadi sarana menambah ilmu, memperkuat iman, serta menenangkan hati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan pentingnya memilih teman dalam pergaulan. Beliau bersabda:
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan seseorang. Kebiasaan manusia cenderung mengikuti orang-orang yang dekat dengannya.
Apabila seseorang bergaul dengan lingkungan yang buruk, maka sedikit demi sedikit ia dapat terpengaruh oleh keburukan tersebut. Sebaliknya, jika ia berada di tengah orang-orang saleh dan berakhlak baik, maka ia juga akan mendapatkan pengaruh positif dari mereka.
Dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menjelaskan kriteria teman yang baik. Beliau berkata:
وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا
“Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut: berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus terhadap dunia.”
(Mukhtashar Minhajul Qashidin, 2/36)
Di era digital saat ini, nasihat tersebut tidak hanya berlaku dalam pergaulan nyata, tetapi juga dalam memilih lingkungan pertemanan di media sosial.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita lingkungan yang baik, teman-teman yang saleh, serta menjauhkan dari pengaruh buruk, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Aamiin.