Puasa Arafah, Momentum Meraih Ampunan dan Meningkatkan Ketakwaan

Puasa Arafah, Momentum Meraih Ampunan dan Meningkatkan Ketakwaan

Purwakarta, (25/05) Umat Islam kembali akan menjumpai salah satu hari istimewa yang penuh keberkahan, yakni Hari Arafah pada 9 Dzulhijjah. Pada momentum tersebut, kaum muslimin dianjurkan melaksanakan puasa Arafah sebagai amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar serta pahala yang agung di sisi Allah SWT.

Puasa Arafah merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Iduladha. Meski hanya dilakukan dalam satu hari, amalan ini memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi, khususnya bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa puasa Arafah menjadi sebab dihapuskannya dosa selama satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Hal ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah dan ketakwaan.

Di saat jutaan jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah, umat Islam di berbagai penjuru dunia dianjurkan memperbanyak amal ibadah, seperti berpuasa, berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, serta meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah.

Puasa Arafah bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana melatih pengendalian diri, memperkuat keimanan, serta membersihkan hati dari berbagai sifat tercela. Melalui ibadah ini, umat Islam diharapkan mampu meningkatkan kualitas diri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain itu, Hari Arafah juga menjadi momentum terbaik untuk bermuhasabah atau introspeksi diri. Momen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan semangat memperbaiki akhlak dan kualitas ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Purwakarta, J Harpendi, mengajak masyarakat memanfaatkan momentum Hari Arafah untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperkuat kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.

“Dengan berbagai keutamaan yang dimiliki, puasa Arafah menjadi kesempatan berharga yang sayang jika dilewatkan. Umat Islam diharapkan dapat menyambut Hari Arafah dengan penuh kesiapan, semangat ibadah, dan niat tulus untuk meraih ampunan serta keberkahan dari Allah SWT,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa semangat Hari Arafah hendaknya mampu mendorong umat Islam untuk terus memperbaiki diri, menjaga persatuan, serta memperkuat nilai-nilai kepedulian dan kebersamaan di lingkungan masyarakat.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
رواه مسلم

“Puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah), saya berharap kepada Allah agar menghapus dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya.”
(HR. Muslim)