LDII Hadir dalam Harlah ke-51 MUI Purwakarta, Perkuat Sinergi Ormas Islam dan Pemerintah
Purwakarta, (20/08). Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Purwakarta H. Susilo Agus Budiyono, S.H., menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-51 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Purwakarta yang digelar di Gedung Yudistira, Purwakarta.
Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi ulama, pemerintah, organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh lintas agama, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menjaga kerukunan serta persatuan bangsa.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh, antara lain Ketua Umum MUI Kabupaten Purwakarta Drs. KH. M. John Dien, Th., S.H., M.Pd., Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Barat masa khidmat 2025–2030 Dr. KH. Aang Abdullah Zein, M.Pd.I., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta Dr. H. Ohan Burhan, M.Pd.I., Bupati Purwakarta Saepul Bahri Bin Zein atau Om Zein, serta Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat.

Turut hadir FKUB Kabupaten Purwakarta, unsur Forkopimda, jajaran pengurus MUI, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

MUI Dorong Penguatan Moderasi Beragama
Ketua Umum MUI Jawa Barat Dr. KH. Aang Abdullah Zein, M.Pd.I., dalam kegiatan tersebut menyampaikan pentingnya moderasi beragama sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan kehidupan beragama dan memperkuat keutuhan bangsa.
Moderasi beragama bertumpu pada empat pilar utama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta sikap akomodatif terhadap budaya. Komitmen kebangsaan diwujudkan dengan menerima Pancasila dan UUD 1945 sebagai fondasi kehidupan bernegara. Sementara toleransi berarti menghormati perbedaan keyakinan tanpa menghilangkan prinsip dan identitas keagamaan masing-masing.
Pilar anti-kekerasan menegaskan penolakan terhadap kekerasan, radikalisme, serta pemaksaan kehendak. Adapun sikap akomodatif terhadap budaya mengajarkan penghargaan terhadap tradisi dan budaya lokal sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip agama. Keempat pilar tersebut dinilai penting untuk membangun masyarakat yang rukun, damai, dan tetap memiliki komitmen kuat terhadap persatuan Indonesia.
Empat Prinsip Kehidupan Keumatan
Selain empat pilar moderasi beragama, MUI Jawa Barat juga membawa empat prinsip kehidupan keumatan masa khidmat 2025–2030. Prinsip tersebut meliputi bersatu dalam akidah, berjamaah dalam ibadah, toleransi dalam khilafiyah, dan bekerja sama dalam dakwah. Pesan tersebut menegaskan bahwa persatuan umat tetap dapat dibangun di tengah adanya perbedaan pandangan, khususnya dalam persoalan khilafiyah. Sementara dalam kehidupan sosial, seluruh elemen masyarakat memiliki ruang untuk bekerja sama dalam menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan bangsa.
Ketua MUI Purwakarta Tekankan Kolaborasi
Ketua Umum MUI Kabupaten Purwakarta Drs. KH. M. John Dien, Th., S.H., M.Pd., menekankan pentingnya membangun kolaborasi antara ulama, pemerintah, organisasi keagamaan, dan tokoh masyarakat.
Menurutnya, pembangunan Purwakarta membutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat, termasuk para tokoh agama dari berbagai latar belakang. Kolaborasi tersebut diarahkan pada penguatan sumber daya manusia, pembentukan karakter, serta terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis. Keterlibatan tokoh-tokoh agama dari berbagai latar belakang juga menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi lintas agama. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam bidang kemanusiaan, sosial, pendidikan, maupun pembangunan daerah.
Kehadiran LDII Perkuat Sinergi Ormas Islam
Kehadiran Ketua DPD LDII Kabupaten Purwakarta H. Susilo Agus Budiyono, S.H., menjadi bagian dari silaturahmi dan sinergi ormas Islam bersama MUI, pemerintah, ulama, dan berbagai elemen masyarakat. Sebagai ormas Islam, LDII memiliki ruang untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial dan kebangsaan melalui penguatan komunikasi, silaturahmi, serta kerja sama dengan berbagai komponen masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, H. Susilo Agus Budiyono tampak bersama sejumlah tokoh pemerintahan dan ulama. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa menjaga kerukunan membutuhkan keterlibatan bersama. Pemerintah, ulama, ormas keagamaan, tokoh lintas agama, aparat keamanan, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan suasana kehidupan yang kondusif.


Merawat Kerukunan di Tengah Keberagaman
Peringatan Harlah ke-51 MUI Purwakarta menjadi pengingat bahwa moderasi beragama bukan sekadar gagasan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap saling menghormati, menolak kekerasan, menjaga persatuan, membangun komunikasi, dan bekerja sama merupakan bentuk nyata dari upaya merawat kerukunan.
Keberagaman agama dan keyakinan merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Karena itu, perbedaan perlu dikelola dengan kedewasaan agar menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan. Dalam ruang kebangsaan, setiap kelompok dapat tetap menjalankan keyakinan masing-masing sekaligus bekerja sama dalam urusan sosial dan kemanusiaan.
Membangun Masyarakat Berkarakter
Momentum Harlah MUI juga menjadi ruang untuk mengingatkan pentingnya pembangunan manusia. Kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang memiliki karakter, integritas, kepedulian, dan semangat kebersamaan. Lima karakter yang ditekankan dalam momentum tersebut adalah semangat, tangguh, berkarakter, peduli, dan berbagi kasih.
Nilai-nilai tersebut menjadi modal sosial untuk menghadapi berbagai perubahan dan tantangan zaman. Dengan karakter yang kuat, masyarakat diharapkan mampu menjaga kehidupan sosial sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa.
Dari Purwakarta untuk Indonesia
Harlah ke-51 MUI Purwakarta akhirnya tidak hanya menjadi peringatan perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi ruang memperkuat komunikasi dan kebersamaan berbagai elemen masyarakat. Kehadiran LDII bersama MUI, pemerintah, ulama, FKUB, aparat keamanan, tokoh lintas agama, dan masyarakat menunjukkan bahwa pembangunan bangsa membutuhkan kolaborasi seluruh komponen.



Semangat tersebut dapat dirangkum dalam pesan:
Berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kemanusiaan. Beragam dalam agama, bersama membangun bangsa.
Dari Purwakarta, pesan kerukunan tersebut diharapkan tidak berhenti dalam forum peringatan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata: menjaga kedamaian, memperkuat silaturahmi, menghormati perbedaan, menolak kekerasan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebab kerukunan bukan hanya sesuatu yang diharapkan, melainkan sesuatu yang harus terus dirawat dan diperjuangkan bersama.
“Mari jadi agen kedamaian! Mulai dari diri sendiri, sekarang juga.”