Persinas ASAD Purwakarta Perkuat Sport Science, Dorong Pembinaan Atlet Berbasis Nutrisi dan Performa

Persinas ASAD Purwakarta Perkuat Sport Science, Dorong Pembinaan Atlet Berbasis Nutrisi dan Performa

Purwakarta, (29/08). Persinas ASAD Kabupaten Purwakarta terus mendorong peningkatan kualitas pembinaan atlet melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga (sport science). Penguatan wawasan tersebut dinilai penting untuk mendukung pembinaan atlet yang semakin terukur, sistematis, dan berkelanjutan.

Salah satu upaya tersebut dilakukan dengan mengikuti Webinar “Belajar Sport Science Bersama KONI” Seri ke-3 yang diselenggarakan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat secara daring melalui Zoom.

Pengurus Harian Persinas ASAD Kabupaten Purwakarta, J Harpendi, mengikuti webinar yang mengangkat tema “Sport Nutrition: Smart Fueling, Peak Performance, Navigasi Gizi Presisi untuk Performa Puncak Atlet”.

Webinar berlangsung pukul 09.45–12.00 WIB dalam format talkshow interaktif. Materi disampaikan Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH, dosen Departemen Gizi Kesehatan Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus praktisi sports dietitian. Diskusi dipandu Dr. Jajat Darajat Kusumah Negara, S.Pd., M.Kes.

Kegiatan tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya nutrisi dalam menunjang performa dan pemulihan atlet. Kebutuhan gizi menjadi salah satu komponen yang tidak terpisahkan dari program latihan, selain aspek teknik, fisik, mental, dan strategi pertandingan.

Salah satu materi utama yang dibahas adalah kebutuhan energi atlet. Energi merupakan bahan bakar tubuh untuk menjalankan aktivitas fisik, mempertahankan performa selama latihan maupun pertandingan, serta mendukung proses pemulihan setelah aktivitas olahraga.

Pembahasan juga mencakup zat gizi makro, yaitu karbohidrat, lemak, dan protein. Karbohidrat berperan sebagai sumber energi penting, terutama ketika atlet menjalani aktivitas berintensitas tinggi. Lemak menjadi salah satu sumber sekaligus cadangan energi tubuh, sedangkan protein berperan dalam pembentukan dan perbaikan jaringan, termasuk jaringan otot.

Selain zat gizi makro, peserta mendapatkan wawasan mengenai peran vitamin dan mineral. Zat gizi mikro tersebut dibutuhkan untuk mendukung berbagai fungsi tubuh, antara lain metabolisme energi, transportasi oksigen, kesehatan tulang dan otot, fungsi sistem saraf, serta proses pemulihan.

Aspek hidrasi juga menjadi perhatian dalam pembahasan. Kehilangan cairan melalui keringat selama latihan atau pertandingan perlu diimbangi dengan strategi pemenuhan cairan yang sesuai. Kebutuhan hidrasi dapat berbeda-beda bergantung pada intensitas dan durasi aktivitas, kondisi lingkungan, serta karakteristik masing-masing atlet.

J Harpendi menilai wawasan mengenai sport science, khususnya nutrisi olahraga, sangat relevan untuk mendukung peningkatan kualitas pembinaan atlet Persinas ASAD Kabupaten Purwakarta.

“Pemahaman tentang sport science, termasuk nutrisi olahraga, sangat penting bagi pengurus dan praktisi olahraga. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembinaan atlet,” kata J Harpendi.

Menurutnya, pencapaian prestasi atlet tidak cukup hanya mengandalkan latihan fisik dan kemampuan teknik. Dukungan nutrisi yang tepat, pemulihan yang baik, serta pengelolaan kondisi fisik juga perlu menjadi bagian dari proses pembinaan.

“Pembinaan atlet membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Latihan, asupan makanan, hidrasi, pemulihan, dan aspek pendukung lainnya perlu ditempatkan dalam satu kesatuan program pembinaan,” ujarnya.

Salah satu materi yang dinilai penting untuk diterapkan dalam pembinaan adalah periodisasi gizi. Konsep tersebut berkaitan dengan penyesuaian kebutuhan asupan gizi berdasarkan perubahan siklus, volume, dan intensitas latihan.

Ketika atlet menjalani latihan dengan beban tinggi, kebutuhan energi dapat meningkat, terutama kebutuhan karbohidrat untuk menunjang aktivitas intensif. Sementara pada hari dengan aktivitas lebih ringan atau istirahat, asupan dapat disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dengan tetap memperhatikan proses pemulihan dan pemeliharaan massa otot.

Materi webinar juga membahas strategi nutrisi pada fase kompetisi dan pemulihan. Saat pertandingan, pemenuhan energi dan cairan diarahkan untuk membantu atlet mempertahankan performa sekaligus mengurangi risiko dehidrasi.

Pada fase recovery, perhatian diberikan pada penggantian cairan dan elektrolit, pengisian kembali cadangan energi, perbaikan jaringan otot, serta pemulihan kondisi tubuh setelah aktivitas fisik.

Pembahasan mengenai suplementasi turut memberikan perspektif bagi peserta. Suplemen tidak ditempatkan sebagai pengganti makanan bergizi seimbang dan program latihan yang terencana. Penggunaannya perlu dipertimbangkan secara tepat sesuai kebutuhan dan kondisi atlet.

Bagi Persinas ASAD Kabupaten Purwakarta, pemahaman tersebut menjadi tambahan wawasan dalam membangun pola pembinaan yang lebih terarah dan berbasis ilmu pengetahuan.

J Harpendi berharap pengetahuan yang diperoleh dari webinar dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pembinaan olahraga, khususnya pencak silat.

“Semoga wawasan yang diperoleh dapat memberikan manfaat dan menjadi tambahan pengetahuan dalam mendukung pembinaan olahraga, khususnya pencak silat,” ujarnya.

Keikutsertaan dalam Webinar “Belajar Sport Science Bersama KONI” menjadi bagian dari komitmen Persinas ASAD Kabupaten Purwakarta untuk terus meningkatkan kapasitas pengurus dan memperluas wawasan mengenai perkembangan ilmu olahraga.

Penguatan kapasitas tersebut diharapkan dapat mendorong pembinaan atlet yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan teknik dan fisik, tetapi juga memperhatikan nutrisi, hidrasi, pemulihan, serta aspek pendukung lainnya.

Dengan pendekatan yang memadukan latihan, nutrisi, pemulihan, dan pengelolaan kondisi atlet, pembinaan diharapkan dapat berlangsung secara lebih terukur, sistematis, dan berkelanjutan.

Langkah tersebut sekaligus memperkuat upaya Persinas ASAD Kabupaten Purwakarta dalam mempersiapkan atlet pencak silat yang memiliki kemampuan teknik dan fisik yang baik, sekaligus didukung pola pembinaan yang semakin profesional untuk menghadapi tuntutan olahraga prestasi.