Safari Jumat di Purwakarta, H. Jojo Suwarjo Kaspan Tekankan Pentingnya Menjaga Akidah Keluarga
Purwakarta, (23/10). Menjaga keluarga bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi dan memberikan perlindungan fisik, tetapi juga memastikan setiap anggota keluarga mendapatkan bimbingan agama. Pesan tersebut disampaikan Wanhat H. Jojo Suwarjo Kaspan dalam kegiatan Safari Jumat di Masjid Nurridwan, PAC LDII Kelurahan Ciseureuh, Kabupaten Purwakarta.
Dalam nasihatnya, H. Jojo mengingatkan bahwa anak, istri, suami, saudara, dan anggota keluarga lainnya merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berkaitan dengan keselamatan dan kesejahteraan duniawi, tetapi juga mencakup upaya membimbing keluarga agar menjaga akidah dan menjalankan ajaran agama.
Menurutnya, setiap anggota keluarga perlu saling mengingatkan dalam kebaikan serta bersama-sama menjaga keimanan. Orang tua, khususnya, memiliki tanggung jawab penting dalam memberikan pendidikan agama dan membiasakan anak menjalankan ibadah sejak dini.
Pentingnya menjaga keluarga ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap orang beriman memiliki tanggung jawab untuk menjaga diri dan keluarganya. Salah satu bentuk tanggung jawab itu adalah memberikan pendidikan agama, menanamkan akhlak yang baik, serta membimbing keluarga agar melaksanakan perintah Allah SWT.
Dengan demikian, keberhasilan dalam membina keluarga tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan hidup, tetapi juga dari kesungguhan dalam menanamkan keimanan dan membiasakan ibadah.
Dalam nasihatnya, H. Jojo juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam membimbing anak melaksanakan shalat. Pendidikan ibadah perlu dimulai sejak dini, bukan menunggu anak beranjak dewasa.
Ketika anak berusia tujuh tahun, orang tua harus mulai mengajarkan, mengingatkan, dan membiasakannya melaksanakan salat. Jika anak masih beralasan atau belum memiliki kesadaran untuk beribadah, orang tua hendaknya tidak membiarkannya tanpa pembinaan.
Sebaliknya, orang tua perlu terus memberikan pemahaman, mendampingi, dan menjadi teladan bagi anak. Ketika anak memasuki usia sepuluh tahun, pembinaan perlu semakin diperhatikan agar kewajiban salat tidak dianggap sebagai perkara sepele.
Hal tersebut sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, nomor 495:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Artinya:
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun. Berikanlah tindakan disiplin terkait salat ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.”
Hadist tersebut menunjukkan bahwa pendidikan shalat membutuhkan proses dan kesinambungan. Orang tua perlu menanamkan kebiasaan beribadah sejak anak masih kecil, kemudian meningkatkan pembinaan seiring bertambahnya usia.
Penerapan disiplin harus tetap memperhatikan keselamatan dan martabat anak, tanpa tindakan yang membahayakan atau melukai. Keteladanan, kesabaran, komunikasi yang baik, dan pembiasaan menjadi bagian penting dalam pendidikan agama di lingkungan keluarga.
H. Jojo turut mengingatkan tanggung jawab laki-laki sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Seorang suami dan ayah memiliki amanah untuk membimbing keluarganya, memberikan teladan, serta mengupayakan agar kehidupan rumah tangga berjalan sesuai dengan tuntunan agama.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 34:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
Artinya:
“Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.”
Ayat tersebut menjelaskan tanggung jawab laki-laki dalam kehidupan rumah tangga, termasuk dalam hal nafkah dan kepemimpinan.
Kepemimpinan keluarga bukan semata-mata tentang kedudukan atau kekuasaan. Seorang suami dan ayah harus menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, membimbing anggota keluarga, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pelaksanaan ibadah.
Di sisi lain, istri juga memiliki peran penting dalam mendidik anak dan membangun kehidupan keluarga. Kerja sama antara ayah dan ibu diperlukan agar pendidikan agama dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Dalam nasihat tersebut, H. Jojo juga mengingatkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah SAW sebagai pedoman hidup. Menjaga keluarga berarti mengupayakan agar setiap anggotanya tetap berada dalam tuntunan agama dan tidak menjauh dari petunjuk Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 153:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”
Ayat tersebut menegaskan pentingnya mengikuti petunjuk Allah SWT dan berpegang teguh pada jalan yang lurus.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal itu dapat diwujudkan melalui pembiasaan ibadah, pengajaran Al-Qur’an, pembentukan akhlak, serta kebiasaan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Orang tua juga perlu memberikan pemahaman agama sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Dengan begitu, anak tidak hanya mengetahui kewajiban agama, tetapi juga memahami pentingnya melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nasihat yang disampaikan dalam Safari Jum’at tersebut mengingatkan jamaah bahwa menjaga keluarga merupakan amanah yang membutuhkan kesungguhan dan tanggung jawab.
Pendidikan agama tidak sepenuhnya dapat diserahkan kepada lembaga pendidikan atau pihak lain. Keluarga, terutama orang tua, memiliki peran mendasar dalam menanamkan keimanan, membentuk akhlak, dan membiasakan anak menjalankan ibadah.
Melalui keteladanan, pembinaan yang berkelanjutan, dan kerja sama antara ayah dan ibu, keluarga diharapkan menjadi lingkungan pertama yang menumbuhkan keimanan dan membangun kebiasaan beribadah.
Kegiatan Safari Jum’at di Masjid Nurridwan, PAC LDII Kelurahan Ciseureuh, Kabupaten Purwakarta, menjadi momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya menjaga akidah dan menunaikan amanah keluarga sesuai tuntunan Islam.
Pesan utamanya, menjaga keluarga bukan hanya melindungi mereka secara fisik dan memenuhi kebutuhan duniawi, melainkan juga membimbing mereka agar mengenal Allah SWT, membiasakan shalat, menjaga akidah, dan menjalankan ajaran agama dengan baik.
Dengan pembinaan yang konsisten, keluarga diharapkan dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab dalam menjalankan kewajiban agama.