J Harpendi Ikuti International Religious Peace Academy 2026, Soroti Peran Generasi Muda dalam Perdamaian
Purwakarta, (03/10). Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Purwakarta periode 2025–2030, J Harpendi, mengikuti International Religious Peace Academy for Youth Leaders & Follow-up Meeting secara daring melalui Zoom.
J Harpendi yang juga merupakan Anggota Biro Hubungan antara Lembaga Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Provinsi Jawa Barat periode 2025–2030 mengikuti sesi yang dijadwalkan pada pukul 20.00 WIB tersebut sesuai undangan yang diterimanya.
Kegiatan International Religious Peace Academy for Youth Leaders & Follow-up Meeting merupakan rangkaian pertemuan yang dijadwalkan pada 19 September, 3 Oktober, dan 10 Oktober 2026. Forum tersebut memberikan ruang pembelajaran dan dialog yang berkaitan dengan kepemimpinan generasi muda, pemahaman lintas agama, serta perdamaian.
Sebelum mengikuti kegiatan, J Harpendi telah menjalani proses pendaftaran dan administrasi peserta. Keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan mengenai dialog lintas agama dan nilai-nilai perdamaian. Bagi J Harpendi, salah satu hal yang paling berkesan dari kegiatan tersebut adalah adanya nilai-nilai yang dapat menjadi titik temu di tengah keberagaman keyakinan.
“Yang paling berkesan bagi saya adalah bagaimana nilai-nilai kebaikan, kebijaksanaan, dan perdamaian dapat menjadi titik temu dalam dialog lintas agama,” ujar J Harpendi.
Menurutnya, memahami perspektif agama lain tidak berarti harus mengorbankan keyakinan yang dianut.
“Saya belajar bahwa memahami perspektif agama lain tidak berarti mengorbankan keyakinan saya sendiri. Sebaliknya, hal itu justru memperluas wawasan, menumbuhkan sikap saling menghormati, dan memperkuat komitmen saya untuk menciptakan masyarakat yang harmonis,” katanya.


Generasi Muda Punya Peran dalam Membangun Perdamaian
J Harpendi juga menyoroti peran generasi muda dalam upaya membangun perdamaian. Menurut dia, kontribusi tersebut dapat dimulai dari sikap saling menghormati, komunikasi yang terbuka, serta penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya percaya bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun perdamaian. Hal itu dapat dimulai dengan saling menghormati, menjaga komunikasi yang terbuka, serta mengamalkan nilai-nilai luhur agama dalam kehidupan sehari-hari,” ujar J Harpendi.
Ia memandang pengalaman mengikuti forum tersebut memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana nilai-nilai universal seperti kebaikan, kebijaksanaan, dan perdamaian dapat menjadi ruang pertemuan di tengah perbedaan keyakinan.
Dalam masyarakat yang memiliki keberagaman agama dan budaya, pemahaman terhadap perspektif yang berbeda dapat menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi sosial yang saling menghormati.
Keikutsertaan J Harpendi dalam forum internasional tersebut juga berkaitan dengan perannya di organisasi, khususnya dalam bidang hubungan antarlembaga. Pengalaman dan wawasan yang diperoleh dapat menjadi tambahan perspektif dalam membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Pada akhirnya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi penghalang untuk membangun hubungan yang positif. Berbeda dalam keyakinan, tetapi mampu bekerja sama dalam kemanusiaan dan perdamaian.