Khatib H. Jojo Suwarjo Ajak Jamaah Muhasabah Iman, Perkuat Ibadah, dan Selamatkan Keluarga Dunia Akhirat

Khatib H. Jojo Suwarjo Ajak Jamaah Muhasabah Iman, Perkuat Ibadah, dan Selamatkan Keluarga Dunia Akhirat

Purwakarta, (02/10). Khatib Jumat, H. Jojo Suwarjo, mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan introspeksi diri atau muhasabah terhadap kualitas keimanan, kesungguhan beribadah, serta tanggung jawab dalam membimbing keluarga menuju keselamatan dunia dan akhirat. Pesan tersebut disampaikan dalam tausiyah ba’da Jumat, bertempat di Masjid Nurridwan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kelurahan Ciseureuh, Kabupaten Purwakarta.

Dalam penyampaiannya, H. Jojo Suwarjo menekankan bahwa setiap Muslim perlu mengevaluasi sejauh mana keimanannya kepada Allah SWT serta bagaimana kualitas ibadah yang dijalankan, terutama dalam membangun kekhusyukan dan ketawadukan. Menurutnya, muhasabah merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim agar tidak hanya menjalankan ibadah sebagai rutinitas, tetapi juga disertai kesadaran, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah SWT.

Dunia Bukan Sekadar Tempat Menikmati Kehidupan

Dalam tausiyahnya, H. Jojo Suwarjo mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukan semata-mata untuk berfoya-foya atau menikmati berbagai kesenangan materi. Dunia harus dipahami sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh sebagai bekal kehidupan akhirat. Ia mengutip ungkapan keagamaan yang dikenal luas:

Ad-dunya mazra’atul akhirah, yang berarti dunia merupakan ladang untuk menanam bekal akhirat.

Amal kebaikan tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk, mulai dari ibadah, sedekah, sedekah jariyah, membantu sesama, hingga mendirikan lembaga pendidikan dan sekolah yang memberikan manfaat bagi generasi penerus. Melalui berbagai amal tersebut, umat Islam diharapkan mampu memanfaatkan umur, tenaga, pikiran, harta, dan kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk menghasilkan kebaikan yang berkelanjutan.

Keluarga Menjadi Amanah yang Harus Dijaga

H. Jojo Suwarjo juga menyoroti pentingnya tanggung jawab seorang Muslim terhadap keluarganya. Menurutnya, kewajiban terhadap keluarga tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga mencakup pendidikan agama, pembinaan akhlak, keteladanan, serta upaya menjaga keimanan seluruh anggota keluarga. Ia mengingatkan bahwa setiap Muslim harus berusaha agar keluarganya tidak hanya memperoleh kehidupan yang baik di dunia, tetapi juga mendapatkan keselamatan di akhirat.

Pesan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Yā ayyuhallażīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nārā.”

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjaga keimanan dan membangun kehidupan keluarga yang berlandaskan nilai-nilai agama.

Kisah Keluarga Nabi Menjadi Pelajaran tentang Ketaatan

Dalam bagian lain tausiyah, H. Jojo Suwarjo mengangkat pelajaran dari kisah keluarga Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS. Ia mengingatkan bahwa kedekatan hubungan keluarga dengan seorang nabi tidak secara otomatis menjamin keselamatan seseorang apabila tidak disertai iman dan ketaatan kepada Allah SWT.

Kisah istri Nabi Nuh AS dan anak Nabi Nuh AS menjadi pelajaran bahwa hubungan nasab maupun kedekatan dengan orang saleh bukan pengganti keimanan pribadi. Pesan tersebut mengajak jamaah agar tidak merasa cukup hanya karena berada di lingkungan yang baik atau memiliki kedekatan dengan orang-orang yang memahami agama.

Setiap individu tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga iman, menjalankan perintah Allah, serta menjauhi larangan-Nya.

Nikmat Hidayah Harus Disyukuri dengan Amal Nyata

Menutup pesan tausiyahnya, H. Jojo Suwarjo mengajak jamaah untuk menyadari besarnya nikmat Allah SWT, khususnya nikmat kehidupan, kesempatan, dan pemahaman terhadap agama Islam. Menurutnya, manusia yang pada awalnya tidak memiliki apa-apa dapat memperoleh kemuliaan melalui kehendak dan karunia Allah SWT.

Karena itu, nikmat hidayah tidak boleh disia-siakan. Pemahaman agama harus diwujudkan dalam peningkatan ibadah, pembentukan akhlak yang baik, kepedulian sosial, serta kesungguhan membina keluarga.

Tausiyah ba’da Jumat tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kehidupan dunia merupakan kesempatan berharga untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki kualitas keimanan, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Melalui muhasabah, ketaatan, dan amal nyata, setiap Muslim diharapkan mampu menjaga amanah kehidupan serta mengupayakan keselamatan diri dan keluarga di dunia maupun akhirat.