Kyai Mustofa Ajak Warga LDII Syukuri Nikmat Dan Jaga Iman Dari Godaan Dunia

Kyai Mustofa Ajak Warga LDII Syukuri Nikmat Dan Jaga Iman Dari Godaan Dunia

Purwakarta, (10/10). Seusai pelaksanaan shalat Jum’at di Masjid Nurridwan, Ciseureuh, Purwakarta, Dewan Penasihat Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)Kecamatan Kota Purwakarta, Kyai Mustofa, menyampaikan nasihat bertemakan “Menjaga Iman dan Mensyukuri Nikmat Allah”.Dalam tausiyahnya, Kyai Mustofa menukil Surat Ibrahim ayat 7 sebagai dasar utama pentingnya bersyukur dalam kehidupan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Menurut beliau, rasa syukur adalah kunci bertambahnya nikmat dan keberkahan hidup. “Syukur itu bukan hanya diucapkan, tapi diwujudkan dengan ketaatan, amal saleh, dan keistiqamahan dalam ibadah,” ujar Kyai Mustofa.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa iman seseorang tidak selalu tetap, terkadang naik dan turun. “Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan amal baik, tapi bisa menurun ketika kita lalai atau terlalu cinta pada dunia,” tuturnya. Karena itu, umat Islam diminta terus memperbarui keimanan dengan dzikir, shalat berjamaah, dan menjaga hati dari sifat sombong maupun tamak.

Dalam nasihatnya, Kyai Mustofa juga menukil kisah Ts’alabah bin Hatib Al-Anshari, sahabat Nabi Muhammad SAW yang awalnya rajin beribadah namun tergelincir setelah mendapatkan kekayaan.

Ts’alabah pernah memohon kepada Rasulullah agar didoakan menjadi kaya. Meski awalnya Rasulullah menasihatinya agar bersyukur dengan rezeki yang sedikit namun berkah, permintaannya akhirnya dikabulkan. Setelah hartanya melimpah, Ts’alabah mulai lalai dari ibadah dan enggan menunaikan dzakat, hingga akhirnya turunlah peringatan dalam Surat At-Taubah ayat 75–77 tentang orang yang mengingkari janji kepada Allah.

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَفَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَفَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya, pasti kami akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang shaleh.’ Namun setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling. Maka Allah menimbulkan kemunafikan dalam hati mereka sampai hari mereka menemui-Nya, karena mereka mengingkari janji kepada Allah dan karena mereka berdusta.” (QS. At-Taubah: 75–77)

Kyai Mustofa menegaskan bahwa kisah tersebut menjadi pelajaran penting bagi umat Islam agar tidak terlena oleh kenikmatan dunia. “Jangan sampai harta membuat kita lupa kepada Allah. Sebab ujian umat Nabi Muhammad SAW adalah harta, sebagaimana sabda beliau:

كُلُّ أُمَّةٍ لَهَا فِتْنَةٌ، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

‘Setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta.’” (HR. Tirmidzi)

Nasihat ba’da Jumat itu ditutup dengan doa agar seluruh jamaah selalu diberi keistiqamahan, kelapangan hati, dan kekuatan untuk bersyukur dalam setiap keadaan.