LDII: Menjaga Pergaulan, Menjaga Masa Depan Generasi Penerus

LDII: Menjaga Pergaulan, Menjaga Masa Depan Generasi Penerus

Jakarta, (12/09). Penggerak Pembina Generus (PPG) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menggelar konsolidasi bertema “Menjaga Pergaulan, Menjaga Masa Depan Generasi Penerus”. Kegiatan berlangsung secara hybrid dari Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Konsolidasi menghadirkan pakar pendidik H. Wildi Istimror sebagai pemateri. Dari Studio Mini Nashrullah, Cikampek, J Harpendi dan Yazid Abdul Razaq mengikuti kegiatan secara daring.

Dalam pemaparannya, H. Wildi menekankan bahwa lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, kebiasaan, pola pikir, prestasi, hingga arah masa depan generasi penerus.

Menurutnya, kebiasaan seseorang dapat terbentuk secara perlahan melalui apa yang dilihat dan dilakukan dalam lingkungan sehari-hari. Sesuatu yang pada awalnya dianggap asing atau tidak baik dapat berubah menjadi kebiasaan ketika terus-menerus dilakukan dalam lingkungan pergaulan.

Karena itu, generasi penerus perlu cermat memilih teman dekat dan lingkungan pergaulannya. Pertemanan yang sehat dapat menjadi ruang untuk saling mendorong dalam meningkatkan ibadah, akhlak, ilmu, prestasi, kedisiplinan, dan pencapaian cita-cita.

Sebaliknya, lingkungan yang tidak sehat berpotensi membawa pengaruh negatif, seperti kebiasaan merokok atau menggunakan vape, perjudian daring, pornografi, membolos, pergaulan bebas, hingga gaya hidup berlebihan.

Mengukur Pergaulan dari Perubahan Diri

H. Wildi mengajak generasi penerus menilai kualitas lingkungan pergaulannya melalui perubahan yang terjadi pada diri sendiri. Indikatornya dapat dilihat dari agama, akhlak, ilmu, prestasi, kedisiplinan, dan cita-cita. Apabila sebuah lingkungan membuat seseorang semakin rajin beribadah, berakhlak baik, bertambah ilmu, berprestasi, disiplin, serta semakin dekat dengan cita-cita, lingkungan tersebut layak dipertahankan.

Sebaliknya, apabila pergaulan menyebabkan ibadah menurun, akhlak berubah, pendidikan terganggu, kedisiplinan melemah, dan cita-cita semakin jauh, kondisi tersebut perlu segera dievaluasi. Generasi penerus juga perlu memiliki keberanian mengatakan “tidak” terhadap ajakan yang berpotensi membawa kepada kemaksiatan dan kemudaratan. Kemampuan menghadapi tekanan teman sebaya menjadi salah satu bekal penting dalam menjaga diri.

Tantangan Pergaulan di Era Digital

Pergaulan generasi penerus kini tidak hanya berlangsung secara langsung. Ruang digital dan media sosial turut membentuk lingkungan sosial yang dapat memengaruhi cara berpikir maupun gaya hidup. Kemudahan mengakses berbagai konten dan tren membuat generasi penerus perlu memiliki kemampuan menyaring informasi serta menentukan pilihan secara bijak.

Media sosial, misalnya, dapat menampilkan gaya hidup konsumtif melalui barang bermerek, kendaraan, tempat nongkrong, maupun berbagai bentuk kemewahan. Paparan tersebut dapat mendorong seseorang mengikuti tren demi memperoleh pengakuan sosial, meskipun tidak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Karena itu, generasi penerus perlu mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, sekaligus tidak menjadikan pengakuan dari lingkungan sebagai ukuran keberhasilan.

Lebih dari sekadar menghindari pengaruh negatif, generasi penerus juga didorong untuk secara aktif membangun lingkungan yang mendukung cita-cita. Mereka yang ingin berprestasi dapat mendekat dengan lingkungan yang memiliki budaya belajar. Sementara mereka yang memiliki cita-cita dalam bidang usaha, organisasi, maupun dakwah dapat membangun jejaring dengan orang-orang yang memiliki tujuan positif.

Penguatan Peran Bimbingan Konseling

Materi tersebut relevan dengan penguatan bidang Bimbingan Konseling, khususnya dalam membantu generasi penerus menghadapi tekanan teman sebaya dan dinamika pergaulan di era digital.

Pembinaan tidak semestinya hanya dilakukan ketika persoalan telah muncul. Pendekatan preventif diperlukan dengan membekali generasi penerus kemampuan mengenali pengaruh lingkungan, mengambil keputusan secara bijak, menjaga batas pergaulan, serta menggunakan teknologi dan media sosial secara bertanggung jawab.

J Harpendi di dampingi Yazid Abdul Razaq mengikuti konsolidasi secara daring dari Studio Mini Nashrullah, Cikampek, sebagai bagian dari penguatan pemahaman dalam bidang Bimbingan Konseling. J Harpendi menilai kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam pembinaan generasi penerus.

“Kegiatan konsolidasi ini diharapkan dapat semakin memperkuat sinergi dalam pembinaan generus. Pesannya sederhana, tetapi sangat mendasar: pergaulan hari ini ikut menentukan generasi di masa depan,” ujar J Harpendi.

Menurutnya, lingkungan yang positif dapat membantu generasi penerus menjaga hidayah, kehormatan diri, dan akhlakul karimah. Pada saat yang sama, lingkungan tersebut dapat mendorong peningkatan ilmu, prestasi, kedisiplinan, dan semangat meraih cita-cita.

“Harapannya, generus mampu menjadi generasi yang berkarakter, berprestasi, dan siap menghadapi berbagai tantangan zaman. Orientasinya bukan hanya sukses dalam kehidupan dunia, tetapi juga selamat dalam kehidupan akhirat,” pungkasnya.

Konsolidasi PPG LDII tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan generasi penerus melalui pemahaman mengenai pengaruh lingkungan, tekanan teman sebaya, serta tantangan pergaulan di era digital.

Pada akhirnya, menjaga pergaulan bukan sekadar persoalan memilih teman, tetapi bagian dari ikhtiar membentuk karakter dan mempersiapkan masa depan generasi penerus. Lingkungan yang tepat diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang berilmu, berakhlak, berprestasi, disiplin, dan memiliki orientasi kehidupan dunia serta akhirat