Safari Dakwah di Purwakarta, Kiai Mustofa Riduwan Ajak Jama’ah Hidupkan Keutamaan Hari Jum’at
Purwakarta, (11/09). Hari Jum’at memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam. Karena itu, umat Islam dianjurkan menyambutnya dengan mempersiapkan diri, memperbanyak amal ibadah, serta bersegera menuju masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Pesan tersebut disampaikan Wanhat Kiai Mustofa Riduwan dalam nasihat ba’da Jumat pada kegiatan Safari Dakwah, di Masjid Nurridwan, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kelurahan Ciseureuh, Purwakarta.
Kiai Mustofa mengingatkan jama’ah agar tidak memandang Jum’at sebagai hari biasa. Menurutnya, Jum’at merupakan hari besar umat Islam yang memiliki banyak keutamaan dan menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu bentuk penghormatan terhadap hari Jum’at, lanjutnya, adalah mempersiapkan diri sebelum berangkat ke masjid. Persiapan tersebut antara lain dengan membersihkan diri, mandi, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik.
“Kalau bisa mempunyai baju khusus ketika mau berangkat Jum’at. Disiapkan khusus di lemari dan dipakai khusus untuk hari Jumat,” tuturnya.
Datang Lebih Awal, Raih Keutamaan
Selain mempersiapkan diri, jama’ah juga dianjurkan datang lebih awal ke masjid. Kiai Mustofa menjelaskan, terdapat keutamaan besar bagi orang yang bersegera menghadiri shalat Jum’at.
Dalam hadits Rasulullah ﷺ disebutkan perumpamaan pahala bagi orang yang datang ke masjid berdasarkan waktu kedatangannya. Orang yang datang pada waktu pertama mendapatkan keutamaan seperti berkurban seekor unta. Berikutnya seperti berkurban seekor sapi, kambing, ayam, hingga telur.

Keutamaan tersebut menjadi dorongan agar umat Islam tidak menunda keberangkatan ke masjid.
“Kalau kita bisa datang lebih awal, jangan menunggu sampai waktu terakhir,” pesannya. Waktu sebelum khutbah, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, serta memperbanyak salawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Jum’at dan Peristiwa Besar
Dalam nasihatnya, Kiai Mustofa juga mengingatkan berbagai keistimewaan hari Jum’at sebagaimana diterangkan dalam hadits Rasulullah ﷺ.
Di antaranya, Nabi Adam diciptakan pada hari Jum’at, dimasukkan ke surga pada hari Jum’at, dan dikeluarkan dari surga pada hari Jum’at. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa kiamat akan terjadi pada hari Jum’at. “Jumat ini kita menjumpai hari besarnya umat Islam,” ujarnya.
Keistimewaan tersebut, kata dia, hendaknya menjadi pengingat agar umat Islam semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah setiap kali datang hari Jum’at.
Shalat Tetap Menjadi Kewajiban
Kiai Mustofa juga menekankan pentingnya menjaga shalat sebagai kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ia menjelaskan bahwa terdapat kondisi tertentu yang mendapatkan keringanan untuk tidak menghadiri salat Jum’at, seperti anak yang belum balig dan orang yang sakit sehingga benar-benar tidak mampu datang ke masjid. Bagi orang sakit yang tidak mampu menghadiri salat Jum’at, kewajiban salat tetap tidak gugur. Ia tetap melaksanakan shalat Zuhur.
Sementara anak yang belum balligh belum terkena kewajiban sebagaimana orang yang telah balligh. Namun, mereka perlu dibiasakan melaksanakan Shalat sejak dini agar tumbuh menjadi pribadi yang mencintai dan menjaga ibadah.
Karena itu, bagi jama’ah yang diberikan kesehatan dan kemampuan, Kiai Mustofa mengajak agar tidak menyia-nyiakan kesempatan melaksanakan shalat Jum’at. Mulai dari mempersiapkan diri, berangkat lebih awal, mengikuti khutbah dengan baik, hingga melaksanakan shalat dengan khusyuk merupakan bagian dari upaya menghidupkan keutamaan hari Jum’at.

Menjadikan Jum’at sebagai Momentum Evaluasi
Safari Dakwah tersebut juga menjadi momentum untuk mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap kualitas ibadah masing-masing.
Setiap Jum’at yang datang menjadi pengingat bahwa waktu dan usia terus berjalan. Karena itu, hari Jum’at hendaknya diisi dengan amal shaleh, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Melalui Safari Dakwah, jamaah diharapkan semakin memahami keutamaan hari Jum’at sekaligus terdorong untuk mengamalkan tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Nurridwan, Kelurahan Ciseureuh, Purwakarta, tersebut sekaligus menjadi sarana memperkuat ukhuwwah dan semangat dakwah di tengah masyarakat.