LDII Purwakarta Dukung Penuh Edaran DPP LDII, Umat Islam Diajak Hidupkan Puasa Tasu’a dan Asyura 1448 H
Purwakarta, (26/06). Dewan Pimpinan Pusat (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Purwakarta menyatakan dukungan penuh terhadap Surat Edaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII Nomor E-261/DPP LDII/VI/2026 tentang pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura 1448 Hijriah.
Melalui momentum bulan Muharram, LDII Purwakarta mengajak seluruh warga LDII dan umat Islam untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dengan melaksanakan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram 1448 H yang bertepatan dengan Kamis dan Jumat, 25–26 Juni 2026.
Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Purwakarta, J Harpendi, menegaskan bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, pergantian tahun Hijriah hendaknya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Puasa Tasu’a dan Asyura merupakan salah satu amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar. Selain menjadi bentuk keteladanan kepada Rasulullah SAW, puasa ini juga mengajarkan nilai syukur, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah SWT,” ujarnya.
Menurutnya, semangat Muharram tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga sebagai momentum introspeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Berdasarkan Hasil Rukyatul Hilal Nasional
Sebelumnya, DPP LDII melalui Surat Edaran Nomor E-261/DPP LDII/VI/2026 menetapkan bahwa 1 Muharram 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026.

Penetapan tersebut didasarkan pada hasil pemantauan hilal yang dilakukan Tim Rukyatul Hilal LDII di 47 titik pengamatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Karena hilal tidak berhasil terlihat, bulan Zulhijah 1447 H disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal) sesuai ketentuan syariat Islam.
Berdasarkan keputusan tersebut, pelaksanaan puasa sunnah Muharram ditetapkan sebagai berikut:
- Puasa Tasu’a: Kamis, 25 Juni 2026 (9 Muharram 1448 H)
- Puasa Asyura: Jumat, 26 Juni 2026 (10 Muharram 1448 H)
Meneladani Perjuangan Para Nabi
Puasa Asyura memiliki sejarah panjang dalam perjalanan dakwah para nabi. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi Musa AS melaksanakan puasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan Allah SWT kepada Bani Israil dari kejaran Fir’aun.
Ketika Rasulullah SAW mengetahui hal tersebut, beliau turut berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkan para sahabat untuk melaksanakannya.
Selain itu, sejumlah riwayat juga mengaitkan hari Asyura dengan keselamatan Nabi Nuh AS setelah bahteranya berlabuh pasca banjir besar yang menimpa kaumnya.
Peristiwa-peristiwa tersebut mengandung pelajaran bahwa pertolongan Allah SWT akan selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman, bersabar, dan istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya.
Keutamaan Puasa Asyura
Puasa Asyura termasuk ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW bersabda:
«”Puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.” (HR Muslim)»
Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram.
Keutamaan tersebut menjadikan puasa Tasu’a dan Asyura sebagai salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk mengawali tahun baru Hijriah dengan penuh semangat ibadah dan ketakwaan.
Dakwah Melalui Keteladanan
LDII Purwakarta memandang bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah dan nasihat, tetapi juga melalui keteladanan dalam menjalankan ajaran Islam di kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan sunnah Rasulullah SAW yang dapat memperkuat karakter religius, kedisiplinan, serta kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui semangat Tahun Baru Hijriah 1448 H, LDII Purwakarta mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan bulan Muharram sebagai momentum memperbaiki diri, mempererat persaudaraan, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta memperkuat kontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Dengan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, diharapkan lahir generasi yang berakhlakul karimah, profesional, religius, dan siap berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.