Ponpes Auliya Sukamulya Gelar Shalat Istisqah, Warga LDII Purwakarta Bermunajat Memohon Hujan

Ponpes Auliya Sukamulya Gelar Shalat Istisqah, Warga LDII Purwakarta Bermunajat Memohon Hujan

Purwakarta, (24/10). Menghadapi kemarau panjang yang berdampak pada ketersediaan air, Pondok Pesantren (Ponpes) Auliya Sukamulya, Kabupaten Purwakarta, menggelar shalat Istisqah berjamaah. Kegiatan ini menjadi ikhtiar spiritual warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) untuk memohon turunnya hujan sekaligus memperkuat keimanan, memperbanyak istigfar, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Shalat Istisqah dimulai pukul 06.30 WIB di lapangan parkir Selatan Masjid Baitul Auliya, Sukamulya. Kegiatan tersebut diikuti warga LDII Kecamatan Purwakarta bersama keluarga besar Ponpes Auliya Sukamulya.

Sejumlah tokoh turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Ketua Ponpes Auliya Sukamulya, H. Syarif Noval; Pengurus Yayasan Khoirul Haq Almanshuri, Drs. H. Wawan Darmawan, M.Si.; serta Dewan Penasihat Pimpinan Cabang (PC) LDII Kecamatan Purwakarta, Ir. H. Isma Firdaus.

Hadir pula Ketua PC LDII Kecamatan Purwakarta, Suprapto, S.H., dan Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Purwakarta, H. Imam Andi Busro, S.H.

Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Zainuddin, M.T., menyampaikan nasihat mengenai hikmah di balik kemarau, pentingnya mensyukuri nikmat air, serta anjuran memperbanyak istigfar dan bertobat kepada Allah SWT.

Dalam ceramahnya, Ustadz Zainuddin menjelaskan bahwa shalat Istisqah merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika masyarakat menghadapi kekeringan.

Melalui ibadah tersebut, jamaah memanjatkan doa agar Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya dan menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan, khususnya bagi masyarakat Purwakarta dan sekitarnya.

Ia mengingatkan bahwa air merupakan nikmat yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan. Kebutuhan rumah tangga, pertanian, pertumbuhan tanaman, serta kelangsungan hidup berbagai makhluk sangat bergantung pada ketersediaan air. Karena itu, kemarau hendaknya menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur, kesabaran, dan kesadaran dalam menjaga nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Menurutnya, manusia kerap diuji dalam menyikapi berbagai keadaan. Ketika hujan tidak kunjung turun, kemarau menjadi keluhan. Sebaliknya, ketika hujan turun berkepanjangan, banjir dan dampaknya juga dapat menimbulkan kesulitan. Pesan tersebut mengajak jamaah untuk menghadapi setiap keadaan dengan sabar dan bijaksana, tanpa mengabaikan kewajiban untuk terus berdoa serta melakukan ikhtiar nyata.

Dalam nasihatnya, Ustadz Zainuddin mengutip firman Allah SWT dalam Surah Hud ayat 52 yang memuat seruan Nabi Hud AS kepada kaumnya agar memohon ampunan dan bertobat kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ ۝٥٢

Artinya:

“Dan (Hud berkata), ‘Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.’” (QS. Hud: 52).

Ayat tersebut mengingatkan umat Islam tentang pentingnya istigfar dan tobat dalam kehidupan sehari-hari.

Ustadz Zainuddin mengajak jamaah agar tidak berhenti pada keluhan ketika menghadapi kemarau. Sebaliknya, kondisi tersebut hendaknya mendorong setiap muslim untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki kualitas ibadah, memohon ampunan kepada Allah SWT, dan meningkatkan ketakwaan.

Dengan demikian, ikhtiar menghadapi kesulitan tidak hanya dilakukan melalui doa, tetapi juga melalui pembenahan diri dan penguatan hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Surah Nuh Ayat 10–12 Mengingatkan Nikmat Hujan dan Rezeki

Selain Surah Hud ayat 52, Ustadz Zainuddin juga mengutip Surah Nuh ayat 10–12 yang menjelaskan ajakan Nabi Nuh AS kepada kaumnya agar memohon ampunan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝١٠

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝١١

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ ۝١٢

وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ۝١٢

Artinya:

Ayat 10: “Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun.’”

Ayat 11: “Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.”

Ayat 12: “Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

(QS. Nuh: 10–12).

Ayat-ayat tersebut menggambarkan ajakan untuk memperbanyak istigfar sekaligus mengingatkan manusia akan berbagai nikmat yang Allah SWT karuniakan.

Hujan berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah, mendukung pertumbuhan tanaman, dan memenuhi kebutuhan air masyarakat. Ketersediaan air juga menopang keberlangsungan ekosistem serta kehidupan berbagai makhluk.

Melalui pesan tersebut, jamaah diajak untuk mensyukuri nikmat air, memperkuat keimanan, dan membiasakan diri memohon ampunan kepada Allah SWT dalam berbagai keadaan.

Dalam ceramahnya, Ustadz Zainuddin turut menyinggung kemarau panjang dan kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk kawasan Kalimantan. Kondisi tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan.

Melalui shalat Istisqah, warga LDII Kecamatan Purwakarta bersama keluarga besar Ponpes Auliya Sukamulya memanjatkan doa agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat.

Harapan tersebut terutama ditujukan bagi wilayah Purwakarta dan sekitarnya agar kebutuhan air masyarakat dapat terpenuhi, lahan pertanian memperoleh pasokan air, dan lingkungan kembali mendapatkan curahan hujan yang bermanfaat.

Selain ikhtiar spiritual, masyarakat juga perlu melakukan langkah nyata dalam menghadapi kemarau. Upaya tersebut antara lain menggunakan air secara hemat, menjaga sumber mata air, mencegah pencemaran, serta memelihara kelestarian lingkungan.

Dengan demikian, doa dan harapan akan turunnya hujan dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab bersama dalam menjaga sumber daya alam.

Pelaksanaan salat Istisqah di Ponpes Auliya Sukamulya juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan antara warga LDII, pengurus pondok pesantren, yayasan, serta jajaran organisasi di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Kehadiran para tokoh dan jamaah mencerminkan semangat kebersamaan dalam menjalankan ikhtiar spiritual menghadapi kemarau. Kegiatan ini sekaligus memperkuat pesan tentang pentingnya rasa syukur, kesabaran, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui kegiatan tersebut, jamaah diharapkan semakin menyadari bahwa air merupakan nikmat yang harus disyukuri dan dijaga. Penggunaannya perlu dilakukan secara bijaksana agar ketersediaannya tetap terpelihara bagi kehidupan saat ini maupun generasi mendatang.

Shalat Istisqah bukan sekadar permohonan agar hujan segera turun, melainkan juga momentum untuk memperkuat keimanan, memperbanyak istigfar, mempererat kebersamaan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.