Sholat Idul Adha PC LDII Purwakarta: Meneladani Ketakwaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam Ibadah Kurban
Purwakarta, (27/05). Sholat Idul Adha 1447 H dilaksanakan Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Purwakarta di halaman depan Masjid BAitul Aulia. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT melalui ibadah kurban.
Dalam khutbah Idul Adha, ustadz Indaryono menyampaikan bahwa secara harfiah kata “qurban” berasal dari bahasa Arab “qaruba” yang berarti dekat. Makna tersebut menggambarkan bahwa ibadah kurban merupakan salah satu bentuk pendekatan diri seorang hamba kepada Allah SWT melalui ketaatan, keihklasan, dan pengorbanan.
Sementara itu kata “Adha” bermaksa penyembelihan atau pengorbanan yang dilakukan sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itu, Idul Adha bukan hanya sekedar menyembelih hewan kurban, melainkan juga menjadi simbol ketulusan hati dalam menjalankan perintah Allah.

Khutbah kemudian mengangkat kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai teladan utama dalam perjalanan ketakwaan kepada Allah SWT. Disampaikan bahwa Nabi Ibrahin telah lama menantikan kehadiran seorang anak. Dalam penantiannya tersebut, beliau bernazar kepada Allah bahwa apabila dikaruniai seorang putra, maka ia akan menjadi hamba yang taat kepada segala perintah Allah. Setelah bertahun-tahun menunggu, Allah SWT akhirnnya menganugerahkan Nabi Ismail AS sebagi anak yang saleh dan dicintai Nabi Ibrahim.
Namun, kebahagiaan tersebut kemudian menjadi ujian besar bagi Nabi Ibrahim AS. Allah memerintahkan beliau melalui mimpi untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS, sebagi bentuk ujian ketakwaan dan ketaatan.
Dalam perjalanan maleksanakan perintah tersebut, setan pun ikut berusaha menggoda Nabi Ismail dan ibunya Siti Hajar agar membatalkan perintah Allah. Setan membisikkan rasa takut, sedih, dan kergauan agar mereka menentang ketetapan Allah SWT. Akan tetapi, Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail tetap teguh dalam keimanan dan memilih taat kepada Allah meskipun ujian tersebut sangat berat.

Ketika Nabi Ibrahim AS benar-benar menunjukkan ketulusannya dalam menjalankan perintah Allah, Allah kemudian menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba besar yang dibawa malaikat sebagi hewan kurban. Persitiwa tersebut menjadi bukti bahwa Allah tidak melihat hasil semata, tetapi melihat keihklasan dan ketakwaan hambanya.
Dalam penutupnya usatdz Indaryono berpesan soal meneladani ketaatan Nabi Ibarhim dalam mengerjakan perintah Allah SWT walau itu terasa sangat berat, “Melalui Idul Adha ini, kita diajak untuk meneladani ketaatan Nabi Ibarhim AS dalam menjalankan perintah Allah SWT, meskipun itu terasa sangat berat, ” tutupnya.