Ustadz Agus Suhendar MT Ingatkan Bahaya Syirik Asghar, Amal Besar Bisa Gugur karena Riya

Ustadz Agus Suhendar MT Ingatkan Bahaya Syirik Asghar, Amal Besar Bisa Gugur karena Riya

Purwakarta, (17/07). Umat Islam diingatkan agar senantiasa menjaga kemurnian tauhid dan keikhlasan dalam setiap amal ibadah. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Agus Suhendar MT dalam nasihat ba’da Salat Jumat di Masjid Baitul Auliya, Pmimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kecamatan Kota Purwakarta.

Dalam tausiahnya, Agus Suhendar menjelaskan bahwa syirik asghar (syirik kecil) merupakan dosa yang harus diwaspadai oleh setiap muslim. Bentuk syirik asghar yang paling banyak terjadi adalah riya, yakni melakukan ibadah atau amal saleh agar mendapatkan pujian dan pengakuan dari manusia, bukan semata-mata mengharap ridha Allah SWT.

“Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa yang paling beliau khawatirkan atas umatnya adalah syirik kecil, yaitu riya. Amal yang tampak besar dapat menjadi sia-sia apabila tidak dilandasi keikhlasan,” jelasnya.

Untuk memperkuat penjelasannya, Agus Suhendar mengutip hadist riwayat Imam Muslim tentang tiga golongan pertama yang diadili pada Hari Kiamat. Ketiganya merupakan orang-orang yang memiliki amalan besar, yakni seorang ahli perang, ahli ilmu yang mengajarkan ilmu dan membaca Al-Qur’an, serta seorang dermawan yang gemar bersedekah.

Di hadapan Allah SWT, masing-masing mengaku telah berjuang, menuntut dan mengajarkan ilmu, membaca Al-Qur’an, serta menginfakkan hartanya demi mencari ridha Allah. Namun Allah berfirman kepada mereka, “Dusta kamu.”

Kepada ahli perang dikatakan bahwa ia berperang agar dikenal sebagai pemberani. Kepada ahli ilmu dikatakan bahwa ia belajar, mengajar, dan membaca Al-Qur’an agar disebut alim dan qari. Sedangkan kepada ahli sedekah dikatakan bahwa ia berinfak agar dipuji sebagai orang yang dermawan. Seluruh pujian itu telah mereka peroleh di dunia, sehingga amal tersebut tidak lagi bernilai di sisi Allah SWT.

Menurut Agus Suhendar, hadist tersebut menjadi pelajaran bahwa ukuran diterimanya suatu amal bukan hanya besarnya pengorbanan, tetapi juga keikhlasan niat. Amal yang paling mulia sekalipun dapat gugur apabila dilakukan demi popularitas, sanjungan, atau kepentingan duniawi.

Sementara itu, Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Purwakarta, J. Harpendi, yang turut menghadiri tausiah rutin tersebut berharap materi yang disampaikan mampu memperkuat pemahaman Warga LDII tentang pentingnya menjaga keikhlasan dalam beribadah.

“Melalui nasihat ini, kami berharap warga LDII semakin memahami bahaya syirik asghar, khususnya riya, sehingga senantiasa menjaga kemurnian niat dalam setiap amal ibadah. Setiap bentuk pengabdian kepada Allah, baik dalam beribadah, menuntut ilmu, berdakwah, bekerja, maupun bersedekah, hendaknya dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT, bukan pujian atau pengakuan manusia,” ujar J. Harpendi.

Ia menambahkan, warga LDII juga diharapkan membiasakan diri untuk bermuhasabah, terus memperbaiki keikhlasan, serta memperbanyak doa agar senantiasa dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dengan demikian, setiap amal yang dikerjakan dapat bernilai ibadah dan diterima oleh Allah SWT sebagai bekal menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Melalui tausiah rutin tersebut, LDII Kabupaten Purwakarta terus mendorong pembinaan keagamaan yang menitikberatkan pada penguatan akidah, keikhlasan beramal, serta pembentukan karakter warga agar senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam kehidupan sehari-hari.