Perspektif: “Baju Barokah”, Menghidupkan Spirit Berbagi di Bulan Ramadan

Perspektif: “Baju Barokah”, Menghidupkan Spirit Berbagi di Bulan Ramadan

Purwakarta, (10/03). Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di berbagai daerah memiliki tradisi sosial yang dikenal dengan istilah “Baju Barokah.” Kegiatan ini bukan sekadar pengumpulan pakaian layak pakai, tetapi merupakan wujud nyata kepedulian sosial dan implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam perspektif dakwah sosial, program Baju Barokah mengandung pesan penting: kebahagiaan Idul Fitri seharusnya dapat dirasakan oleh semua orang. Realitas di masyarakat menunjukkan bahwa tidak semua keluarga mampu membeli pakaian baru menjelang lebaran.

Di sinilah nilai kepedulian diuji apakah umat Islam hanya merayakan kemenangan secara pribadi, atau turut memastikan bahwa kebahagiaan itu juga dirasakan oleh sesama.

Melalui kegiatan ini, warga LDII diajak untuk berbagi dengan cara yang sederhana namun bermakna. Pakaian yang masih layak pakai dikumpulkan, diseleksi, lalu disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Bagi sebagian orang mungkin itu hanya pakaian yang sudah tidak digunakan, tetapi bagi penerimanya, hal tersebut bisa menjadi kebahagiaan tersendiri dalam menyambut Idul Fitri.

Contoh nyata dari semangat tersebut terlihat pada kegiatan yang dilaksanakan oleh warga LDII di Purwakarta.

Melalui program Bazaar Barokah, warga LDII menghadirkan berbagai pakaian layak pakai yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana berbagi, tetapi juga mempererat hubungan sosial antara warga LDII dengan masyarakat luas.

Lebih dari sekadar kegiatan sosial, Baju Barokah juga memiliki dimensi pendidikan karakter. Generasi muda diajak untuk belajar tentang empati, kepedulian, dan pentingnya berbagi.

Nilai-nilai tersebut sangat penting untuk membangun masyarakat yang tidak hanya religius secara ritual, tetapi juga kuat dalam solidaritas sosial.
Pada akhirnya, makna Idul Fitri tidak hanya terletak pada pakaian baru atau kemeriahan perayaan.

Esensi dari hari kemenangan adalah kembali kepada kesucian hati, memperkuat ukhuwah, dan menebarkan manfaat bagi sesama.

Program Baju Barokah menjadi salah satu cara sederhana namun nyata untuk mewujudkan semangat tersebut. Jika semangat berbagi seperti ini terus dipelihara, maka Ramadan tidak hanya menjadi bulan ibadah individual, tetapi juga momentum memperkuat kepedulian sosial dan membangun masyarakat yang lebih peduli, rukun, dan berkeadilan.

Ditulis oleh:
J Harpendi
Wakil Ketua DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kabupaten Purwakarta
Selasa, 10 Maret 2026